Kamis, 27 Desember 2012

Seorang Pria di Gedung Kesenian

"Seni sudah mati".

Kata-kata itu bukan sayup-sayup ku dengar. Dia berteriak di dekatku. Tangannya menunjuk ke arah bangunan tua yang bahkan tak mendengarnya. Dia terus berteriak dan memaki. Terus berteriak di pinggir jalan dan menghadap ke bangunan itu. Apa yang dilakukannya ? Bangunan itu tak merespon sedikitpun kelakuannya. Disekelilingnya, orang hanya cekikikan melihatnya. Akupun begitu. Mungkin saja dia hanya menjadi hiburan bagi kami yang ada disini. Ternyata, dia tak peduli. Suara lantangnya tak juga melemah. Selamat berjuang pria kecil pemberani !
Yah, kau tak hanya sekedar berteriak. Kata-kata mu pasti penuh arti. Meskipun, aku tak mengerti sedikitpun tentang seni. Dan akupun tak mengerti kata-kata yang sedari tadi kau ucapkan. Aku tahu, kau tak mungkin melakukan itu kalau tak mengerti tentang seni. Tak mungkin kau seenaknya menyebut dia sudah mati kalau kau tak kecewa padanya. Aku hanya bisa menonton dan menulis tentangmu. 

Hei pria kecil pemberani ! Kau mengingatkanku pada kata-kata yang pernah kubaca.

"Seni adanya di jalanan. Bukan di gedung kesenian."
 

0 komentar:

Posting Komentar