Kita pernah terbang bersama. Aku tahu, sayapmu lebih besar dan mampu terbang lebih cepat dariku. Tapi kau mengurangi kepakan sayapmu agar aku tak ketinggalan. Aku pikir, kau baik. Aku pikir, kau senang terbang bersamaku. Tapi aku tak pikir, kalau kau tahu aku tak suka kalah. Semakin lama, kepakan sayapmu semakin lemah. Dan kau tertinggal di belakangku. Aku kira, aku menang. Dengan tersenyum bangga, aku berbalik dan berkata, "Aku menang, kan ?". Dan kau dengan tenangnya tersenyum dan berkata, "Iya. Kau menang, Elaa ! Dan aku suka terlihat kalah." Seperti itu terus.
Aku jatuh dan sayapku patah. Aku terlalu memaksakan agar terbang secepat mungkin. Apa yang kau lakukan ? Kau turun dan menolongku. Kau berkata, " Kita tetap teman, kan ?" dan aku berkata " Jangan tinggalkan aku."
Kau memang tetap menemaniku memulihkan sayapku. Aku tak tega. Dan aku menyuruhmu pergi. Tapi kau berkata, "Ayolah. Aku ini laki-laki." Saat itu aku sadar kalau kau sudah pergi. Kau sudah meninggalkanku. Tubuhmu ada disini. Tapi kau sudah pergi. Kau sudah pergi sejak kau menungguku. Kau sudah pergi sejak kau melemahkan kepakan sayapmu. Kau sudah pergi sejak kau membiarkanku terlihat menang.
Asal kau tahu saja. Sangat menyenangkan melihatmu terbang sesuai dengan talentamu. Kau tak harus disini menemaniku memulihkan sayapku. Cukup membuatku mabuk, babe ! Ayolah. Aku ini perempuan.
Untuk orang yang mau belajar semiotika.

0 komentar:
Posting Komentar