Sabtu, 19 Oktober 2019

Disini

 Disini bising
Suara musik kelas dua mendominasi
Alkohol murahan memenuhi meja
Bocah sekolahan yang ingin sembunyi-sembunyi
nakal berhamburan
Lalu apa yang aku lakukan disini?
Mencoba membunuh sepi
mengusir gelisah
atas waktu yang terus berjalan
Membungkam cemburu
atas dia yang sedang bahagia disana

Bersama sehelai kertas lusuh dan pulpen termurah di toko
Aku mencoba untuk berteman
dengan segala hal yang mengerikan namun indah ini
Sambil memahami sesuatu yang jauh dari akal sehat

Di meja sudut sana,
sepasang anak muda sedang berpelukan
saling menularkan kebahagiaan
saling memberikan kasih sayang
seraya mencari penginapan murah
sembari memikirkan alasan terbaik
kepada ibu di rumah karena tidak pulang malam ini

Di dalam ruang 1X2 di belakang sana,
sekelompok pria setengah baya sedang menikmati
belasan botol alkohol
menikmati belaian gadis muda yang sudah mendalami peran sebagai teman yang baik
Sembari tertawa lepas,
sejenak melupakan rengekan istri yang minta tas baru
tangisan anak balita yang tidak pernah peduli waktu dan keadaan yang tepat
waktu membayar utang di kantor yang semakin dekat
Hanya untuk lupa

Di meja tengah,
sekelompok gadis muda 
sedang menikmati musik yang mengalun
sambil terpesona pada penyanyi pria
yang sedang tersenyum ke arah mereka
Di tengah cekikikan geli, tetap ada satu orang aneh
yang tak peduli karena terlalu sibuk dengan
foto mana yang akan di publish di akun media sosial

Di luar ruangan,
ada seorang pria yang masih
sibuk bercerita tentang bahan jualan
pada kliennya yang bahkan sudah terlalu bosan
Ya, laki" itu sudah berbicara sejam penuh tanpa jeda

Disini, di tempat ini
ada nafsu, penderitaan, sepi, keserakahan, iri hati
Dan tetap saja ada cinta, bahagia, tulus hati, keteguhan, kedisiplinan

Di balik tempat yang terlihat kumuh dan kotor
akan selalu ada surga
Karena surga tak pernah sejauh langit.
Dia ada dimanapun orang yang mencarinya berada.

Day 3

Jumat, 18 Oktober 2019

Dunia

Hai Dunia!
Mari berbincang-bincang tentang cinta 
bersama dengan Sang Penulis yang membuat segalanya ada

Dunia,
Cinta adalah tentang rasa
Rasa sakit yang membuat candu
Rasa rindu yang menyiksa
Rasa bahagia yang membuat lupa
Rasa pahit yang tetap manis

Dunia,
cinta adalah karunia
Dia tak dapat dibeli ataupun diminta
Hanya bisa kau dapatkan ketika Sang Penulis yang memberinya
Dan Sang Penulis adalah cinta itu sendiri
Dia selamanya indah
Maka cintapun sudah seharusnya
adalah selamanya indah
dan sepantasnya baik

Mengapa, Dunia?
Mengapa dia membunuh karena cinta?
Dia membenci karena cinta
Dia merusak karena cinta
Dia menyakiti karena cinta
Seperti itukah seharusnya cinta?

Dunia,
Kamu lihat di sebelah Utara sana?
Mereka dua kutub utara yang sedang tertawa bahagia
Saling memberikan cinta yang adalah tertolak dalam hukum sains
Sains menolak, orang mencibir
Inginku berkata bahwa tak ada yang mustahil
Tapi aku hanya diam
Karena mereka tak tahu, bahwa yang tertolak adalah pahlawan bagi ketulusan

Lihatlah, Dunia!
Disebelah Barat ada mereka yang harus pergi 
tak butuh pengakuan
membuang segala kemapanan
mengacuhkan sumpah serapah
hanya untuk bersama
hanya ingin bahagia
Orang yang berkata bodoh, tak sadar kalau bahagia adalah kemapanan yang sebenarnya

Hei Dunia!
Kamu lihat di Timur sana?
Orang berkata dia gila, karena meninggalkan surga demi cinta
Bagaimana orang bisa memisahkan antara surga dan cinta?
Bukankah cinta adalah surga itu sendiri?
Tanpa cinta, takkan ada surga
Takkan ada bahagia tanpa cinta
Tolong, jangan biarkan orang merusak surga!

Dunia,
coba simak dia yang di Selatan sana!
Dia berjalan berkeliling sendirian
Orang mencibir bahwa dia tak punya cinta
Tanpa sadar, bahwa dia membagi cinta pada semua orang
Yang mencibir, tak melihat bahwa dia menyuapi semua orang tanpa kecuali
Meski sendiri, tak berarti tak punya cinta
Meski sepi, tak berarti hatinya kosong
Bukankah sepi adalah guru terbaik dari setia?

Dunia, sayang!
Buka matamu
setinggi langit dan sedalam lautan
dalam terangnya mentari dan gelapnya malam
Biarkan Sang Penulis datang,
dan akan kau dapatkan cinta itu.
Percayalah, Sang Penulis akan selalu ada bersama yang berjuang.

Kamis, 17 Oktober 2019

Kamis

Hai Kamis!
Lama tak kulihat pagimu
Aku terlalu sibuk bergaul dengan malam
Terlalu cinta pada gelap
Yang akan segera mengusirmu
Dan membiarkan Jumat datang menggantikanmu

Hai Kamis!
Jangan marah!
Bukan berarti aku tak sayang
hanya karena kulewatkan mentari pagimu
Bukan berarti tak cinta
karena tak kunikmati terik panasmu
Bukan berarti aku lupa
jika tak kusapa kau di luar dari kamar yang selamanya gelap
Bukan berarti aku benci
jika hanya kulewati bagianmu dengan membunuh

Ya Kamis!
Aku datang padamu saat ini
Dengan lingkaran mata tebal
yang dilapisi 2 jenis foundation
Dengan seribu makian sumpah serapah
karena kehilangan bintang
Dengan glukosa yang melimpah
berkat kopi yang kuminum

Dengarlah, Kamis!
Hari ini aku membunuh puluhan kali
Dan kudapatkan penghargaan karena itu
Aneh bukan? Membunuh ternyata dihargai
Ssst. Jangan ribut, aku kenal banyak orang yang kaya karena membunuh
Aku membunuh dengan panah, pedang, dan sihir
Mereka tak bisa menghindar dari bidikan panahku
Mereka tak bisa menghalau tajamnya sabitan pedangku
Mereka tak bisa lari ketika kuhisap darah mereka dengan sihir

Tapi Kamis!
Aku tetap bersedih
Meski membunuh banyak orang,
aku tetap tak bisa menang
Karena hidup bukan tentang pencapaian sendiri
Tapi juga tentang orang lain
Di sisimu ada orang yang egois
dan pada lawanmu ada yang pengertian
Di sisimu ada orang baik yang tak bisa membunuh
tapi lawanmu adalah tim pembunuh yang sadis
Apalah artinya jika hanya kaya sendiri?
Aku sedang menghadapi mereka yang berkecukupan bersama

Tahukah kamu, Kamis?
Mereka akhirnya menang
Siapapun lawannya akan menang
Karena mereka bersama dan aku sendirian
Dan akhirnya emas dan berlian takkan ada gunanya
Karena hidup adalah tentang menang dan kalah
Adalah tentang kerja sama dan pertemanan
Bukankah manusia tak bisa hidup sendiri?

Maafkan, Kamis!
Aku datang dengan perasaan bersedih
Aku terlalu sibuk bercerita tentang kekalahan
Tentang hilangnya bintang yang begitu sulit kukumpulkan

Terima kasih, Kamis!
Kau menyimak semua kekesalanku
yang pastinya tak penting untukmu
Yang tak seberapa dibanding orang lain
Yang tak ada artinya dengan pemujamu yang lain

Inilah aku, Kamis!
Apapun yang orang lain katakan,
inilah caraku mencintaimu
Caraku menjalani peran darimu
Hei! Jumat sudah bersiap-siap untuk datang
Akankah dia akan membantuku mendapatkan
semua bintang yang hilang?
Mungkin, ya. Bisa jadi, tidak. 


30DWC Day 1

Sabtu, 21 Januari 2017

SENDIRI


Dan aku masih disini
Memandang ke arah malam
Bahagia, terkunci
Terkurung dalam kelam

Dan aku masih disini
Menopeng wajah dengan senyuman
Mencoreng nama dan diri
Saat cahaya fajar telah termakan

Dan aku masih disini
Menelan racun, meminum darah
Menghampiri malam memeluk sepi

Dan aku masih disini
Pukul, tampar, dan tendang aku
Karena aku akan tetap disini

*jenis puisi Soneta.
*lagi belajar bikin puisi yang pake aturan.
*efek Mata kuliah Kajian Puisi dapat E karena keseringan nda pake aturan :'(

Selasa, 20 Desember 2016

Bunga Revolusi dan Pelacur Kecil

Aku ada disini. Sudah tiga kali. Tepat di bawah tubuhnya. Kurasakan dia mulai memasuki tubuhku. Kasar dan tanpa perasaan. Ketika sudah memuncak, ditancapkannya dirinya dengan sangat dalam padaku. Kutahan rintihan dan keluhan kesakitan yang akan keluar dari mulutku. Hawa dingin mulai membanjiri tubuhku. Menusuk tubuhku yang bahkan tidak telanjang. Dingin ini begitu kasar merasukiku, bahkan lebih kasar dari sentuhannya. Dia mulai naik ke ke dadaku, kerongkongan, dan akhirnya tiba di kepalaku. Dingin ini mulai memprovokasi alam pikiranku. Dan akhirnya, aku marah. Marah pada siapa? Pada sebongkah daging berjenis laki-laki yang sedang tersenyum meremehkan di depanku? Kurasa bukan. Lalu pada siapa? Kuacuhkan marahku. Kudorong daging itu dan beranjak menuju kamar mandi. Kulepaskan pakaianku yang bahkan masih lengkap terpakai. Dan aku membiarkan air dingin melawan hawa dingin yang tadi. Dingin melawan dingin? Bisakah? Air harusnya melawan api. Panas harusnya melawan dingin. Ya, aku mencoba melawan sesuatu yang bahkan adalah esensi dirinya. Mencoba menandingi dan membunuh diri sendiri. Itulah yang kulakukan kali ini. Air dingin ini mulai menguasai tubuhku tapi tak dapat mengusir hawa dingin yang tadi. Kuambil handuk, membungkus tubuhku dan keluar dari kamar mandi. Kulihat daging itu tertidur dengan tenangnya di kasur. Wajahnya terlihat sangat lelah. Memang tadi siang kami sangat sibuk. Setelah memakai pakaian, aku duduk di depan meja. Sambil bercermin, kuusapkan pelan bedak tipis di wajahku. Aku tak mau terlihat kusam jika dia sudah bangun nanti. Kumatikan lampu kamar, dan dengan berjingkat pelan aku ikut masuk dalam selimut. 
"Selamat malam, daging", kataku mencium bibirnya pelan. Lalu akupun tertidur.

Namaku Faith. Entah apa maksud orangtuaku memberiku nama sedemikian indah. Mungkin mereka berharap aku menjadi seseorang yang setia. Dan pada kenyataannya, aku tak pernah benar-benar setia pada seseorang ataupun sesuatu. Teman-temanku lebih senang memanggilku dengan sebutan "Fet". Karena mereka malas mengeja bahasa asing. Lebih baik namaku dilokalin saja, katanya. Sehari-hari aku bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat. Lembaga ini adalah patok awal seluruh duniaku. Sudah lima tahun duniaku berpusat pada kegiatan-kegiatan yang tak pernah jauh dari masyarakat. Lingkungan keluargaku dengan tegas menolak saat aku memilih untuk memasuki dunia ini setelah aku memperoleh ijazah perguruan tinggiku. Karena aku terlahir sebagai seorang perempuan yang keras kepala, aku tak mengindahkan nasihat semua orang. Aku hanya berjalan sesuai dengan yang ada dalam kepalaku. Pekerjaan ini tak mampu memberiku penghasilan yang luar biasa ataupun rutin seperti pekerjaan kantoran yang dipilih dan ditempuh oleh teman-teman sekampusku dulu. Hanya saja, aku senang dengan segala ketidakterikatan yang kudapatkan disini. Semua orang mencintaiku karena ditanganku, semua kegiatan menjadi lancar. Kesulitan hampir tak pernah kudapatkan. Selain itu, aku juga aktif di sebuah partai politik.  Sebuah sosok perempuan yang hebat dan maju sangat melekat padaku. "Bunga Revolusi", begitu mereka menjulukiku. Tak pernah sekalipun kepalaku tertunduk jika berhadapan dengan orang lain. Kepercayaan diriku selalu setia tinggal dalam kepala ini. Berpidato ataupun berorasi di depan orang banyak bukan masalah buatku. Aku mampu membius orang banyak dengan kata-kataku. Tak heran, karir politik dan sosialku melambung tinggi. Meskipun begitu, aku tak terlalu serakah. Menjadi wakil rakyat bukanlah tujuanku. Aku senang tampil di depan orang banyak tapi aku tak mau menaruh tanggung jawab yang terlalu besar di bahuku. Karena aku sadar kekuranganku. Pada malam hari, saat semua orang tertidur aku menjadi sosok yang lain. Aku berkelana ke tiap-tiap pelukan segumpal daging yang menamai dirinya laki-laki. Jika bosan, aku pergi lagi mengumpan daging yang lainnya. Aku melakukan hal ini tak memerlukan uang sebagai bayaran. Aku juga tak memerlukan cinta dari mereka. Karena daging tak pantas untuk memberikan dan diberikan cinta oleh manusia. Aku bukan seorang feminis ataupun pejuang kaum perempuan. Aku hanya membutuhkan mereka untuk memenuhi kebutuhan biologisku. Ini bukan kejam. Karena fungsi daging memang hanya untuk memanjakan lidah, mengenyangkan, dan meninggalkan sampah kolesterol dalam darah. Kehidupan gelapku tak perlu diketahui orang lain. Pahlawan takkan ada jika tak ada penjahat. Takkan ada nilai kebaikan jika tidak ada nilai kejahatan yang menjadi kiblat awalnya. Bayangkan jika dunia ini hanya ada kebaikan semata, apakah yang menjadi tolak ukur suatu kebaikan? Semuanya adalah biasa saja, kan? 

Aku terkaget mendengar suara HP-ku berbunyi. Kuambil dan kulihat di layarnya tertulis "istriku". Kulirik dia di sampingku, dia tertidur pulas. Kutekan tombol hijau di layar dan berbicara perlahan agar pelacur kecilku tak terbangun,
"Halo"
"Halo. Sudah tidur sayang?"
"Iya. Lelah sekali seharian ini."
"Iya. Jaga kesehatan sayang. Kapan pulang?"
"Besok. Jam sembilan. Aku lanjut tidur yah"
"I love you papa sayang"
"Bye."
"Bye."
Jam menunjukkan pukul 01.00 AM. Masih banyak waktu, pikirku. Kulirik lagi pelacur kecilku, dia masih tertidur. Dia memakai pakaian lengkap. Tapi entah kenapa libido kian menguasaiku lagi. Kulayangkan tamparan lembut di pipinya. Dia kaget dan terbangun. Bibirnya tersenyum kecil saat melihat wajahku. Kutarik dia dengan kasar kearahku. Dia terlonjak kaget dengan perlakuanku. Aku tertawa. Wajah merenggutnya semakin membuatku lupa diri. Kujambak pelan rambutnya dan kuarahkan dia untuk membungkus diriku. Awalnya dia melakukannya dengan perlahan seperti tak ikhlas tapi lama-kelamaan dia mulai menikmatinya. Dan sekali lagi kami menjadi binatang buas hingga kami tertidur karena lelah

Namanya Faith. Umurnya 27 tahun, dan tidak memiliki pasangan. Wajahnya tidak cantik dengan postur tubuh yang standar. Tapi dibalik penampilannya yang sangat biasa itu tersembunyi panggilan libido yang luar biasa. Sensual, kata orang. Kami bertemu tiga hari yang lalu pada kegiatan ini yang juga melibatkan lembaga tempat dia bekerja. Aku bekerja di instansi pemerintah dengan posisi yang cukup bagus. Dan sudah menjadi tugasku untuk menghadiri kegiatan ini. Aku hanya coba-coba mendekatinya. Mumpung lagi di luar kota dan jauh dari istri, pikirku. Dan ternyata dia menyambutnya dengan baik. Kegiatan ini hanya tiga hari dan kami melakukannya setiap malam. Dan yang menjadi wah, aku bahkan tak memiliki kontaknya. Mudah sekali, pikirku. Saat pertama kali kami bersama, aku sadar kalau bukan hanya aku laki-laki dalam hidupnya. Selain dekat denganku, diapun dekat dengan beberapa lelaki lainnya. Seorang perempuan cerdas, sopan, dan kharismatik di mata semua orang, ternyata hanyalah seorang pelacur kecil di malam hari. Waktu itu malam pertama, setelah kami selesai dia langsung pamit pergi meninggalkanku. Untuk pertama kalinya ada perempuan yang pergi mendahuluiku. Ini membuatku semakin bergairah karena aku tak perlu merasa bersalah ataupun merasa terbebani dekat dengan seorang pelacur yang secara sukarela memberikan dirinya tanpa perlu diberikan uang saku ataupun kata-kata cinta. Dia hanyalah seorang pelacur kecil yang kesepian dan haus akan kenikmatan neraka ini. Dia bahkan tak pantas untuk dikagumi sedikitpun. Karena itulah malam ini aku bermain sedikit kasar dan meremehkan padanya. Karena pelacur memang tak pantas untuk dihargai, bukan? Besok saja meminta kontaknya, pikirku. Aku mulai suka dengan hubungan yang murahan dan mudah ini.

Aku terbangun pada pukul 07.00 AM. Kulirik disebelahku, ternyata dia sudah pergi. Aku bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Kulihat secarik kertas di atas meja. Kuambil dan kubaca perlahan,
"Thanks to you. Faith."

Sabtu, 15 Oktober 2016

KAU

Ini hanya tentang perilaku. Bukan soal benar atau salah. Bukan juga soal suka atau tak suka. Karena kau bukan aku dan aku bukan kau. Meskipun kau dan aku berasal dari cetakan ilahi yang sama. Kau dan aku ada karena tangan yang sama. Meskipun begitu, perilaku yang berlaku padamu tak bisa begitu saja berlaku padaku. Begitupun sebaliknya, sayang.

Maaf kalau aku terlalu banyak bertanya. Ketidaktahuanku bekerja sama dengan rasa ingin tahuku. Dan mereka sangat akur. Sekian waktu telah kuhabiskan untuk bertanya. Tapi tak pernah kudapatkan jawaban yang bisa memuaskan nafsu ingin tahuku. Kau bilang, kau tak suka kata tanya "kenapa" dengan alasan, ada hal yang tak memerlukan alasan. Padahal itupun adalah alasanmu untuk menghindari kata tanya "kenapa". Yah, kalau disederhanakan, kau malas menjawab. Maka, kugantikan dengan kata tanya "apa". Dan kau masih belum menjawab. Jelas sudah asumsi awalku kalau kau malas menjawab, adalah benar.

Yah, aku masih disini bukan karena semata-mata adalah suka. Menamparmu atau menendangmu lalu pergi tidak akan menghasilkan rasa puas. Iya. Aku hidup karena rasa ingin tahuku masih hidup. Reaksi dan efek sama sekali tidak ada gunanya. Karena memang aku tak pernah berniat memberimu efek jera atau apapun lah sejenisnya. Itu bukan tugasku. Aku hanya berkiblat pada nafsu dan keinginanku untuk tahu. Apapun yang dulu, sekarang, ataupun nanti kau rasakan, bukan menjadi urusanku. Cukup pertanyaanku terjawab, sayang. Harus kau? Tentu saja. Karena kau adalah awal mula pertanyaan ini timbul.

Meski begitu, terima kasih karena ini berarti kau mengenalku. Meski hanya satu sisi. Seleraku dalam menulis. 😊😊

Jumat, 22 Januari 2016

Kata adalah senjata

Kata, mampu mengubah tangis menjadi tawa. Kata, mampu mengubah tawa menjadi tangis. Bisa menciptakan teman ataupun musuh. Mampu mengundang dan juga mengusir cinta. Sebagai alat untuk mengeluarkan ide yang tak mampu lagi ditampung oleh tubuh. Dengan kata, dusta bisa menjadi kebenaran. Kisah nyata berubah menjadi fiksi. Percaya berganti curiga. Api amarah menjadi angin kasih sayang. Rasa takut bisa menggantikan keberanian. Dengan kata, kau mampu membunuh seseorang. Kau bisa menghancurkan tumit lawan. Menyalakan api di dalam air. Mengubah sampah menjadi permata. Mengangkatmu dari jurang neraka ke surga. Membawamu ke alam imajinasi terliar yang pernah kau punya. Seperti itu kah? Ya. Karena kata adalah senjata.