Jumat, 03 Agustus 2012

Masih dari Eleven Minutes

Kutipan Cerita dari Eleven Minutes-Paulo Coelho ( dongeng favorit )


Dari catatan harian Maria.

Alisah, dulu ada seorang burung jantan yang tampan. Dia punya sepasang sayap yang indah dan tubuhnya berhias bulu beraneka warna yang halus mengkilat. Pendeknya, dia diciptakan untuk terbang bebas di langit biru dan memberi rasa bahagia pada semua makhluk yang memandanginya.

Pada suatu hari, seorang perempuan melihat burung itu dan langsung jatuh hati padanya. Mulutnya menganga penuh kekaguman saat memandangi burung itu terbang membelah langit, jantungnya berdegup kencang, matanya berbinar-binar penuh harap. Dia meminta burung itu membawanya terbang, dan keduanya menari dengan serasi di angkasa. Dia sungguh mengagumi dan memuja burung itu.

Sempat terlintas dalam benak perempuan itu : Mungkin burung itu ingin berkelana ke puncak-puncak gunung yang jauh ! Seketika hatinya risau dan cemas, khawatir hatinya jatuh cinta pada burung lain. Dan ia sungguh iri, mengapa ia tak bisa terbang bebas sebagaimana burung pujaannya itu.

Dan dia merasa kesepian.

Lalu dia berpikir : "Akan kubuat sebuah jebakan. Jika burung itu muncul lagi, dia akan terjebak dan tak bisa pergi lagi."

Si burung yang ternyata juga jatuh cinta pada perempuan itu datang keesokan harinya, terpikat masuk ke dalam jebakan, dan akhirnya dikurung oleh perempuan itu.

Dengan puas hati perempuan itu memandangi burung pujaannya setiap hari. Akhirnya dia mendapatkan objek tempat dia menumpahkan segala luapan nafsunya, dan tak lupa dia memamerkan burung itu kepada teman-temannya yang tak henti-hentinya memuji : "Kini kau telah mendapatkan segala sesuatu yang kau inginkan." 

Namun kini telah terjadi perubahan yang aneh : karena burung itu telah mutlak dikuasainya dan dia tidak perlu merayu dan memikatnya lagi, akhirnya dia tak lagi tertarik kepadanya. Dan si burung yang tak kuasa terbang dan mengungkapkan makna hidupnya yang sejati mulai merana. Bulunya yang indah mengkilat berubah kusam, dan makhluk yang penuh pesona itu berubah menjadi buruk rupa, dan perempuan itu semakin lama semakin tak menghiraukan dia, kecuali memberi makan dan minum serta membersihkan kandangnya.

Pada suatu hari burung yang merana itu mati. Perempuan itu sangat bersedih, dan setiap hari menghabiskan waktunya untuk mengenang si burung. Tapi dia tak lagi hirau pada kandang burung itu, dia hanya teringat saat pertama kali melihat si burung mengepakkan sayapnya dengan penuh keyakinan diri di sela-sela awan.

Seandainya dia bisa bercermin pada kalbunya yang paling dalam, dia insaf bahwa pesona terbesar makhluk berbulu itu adalah kebebasannya, keperkasaan kepak sayapnya, dan bukan sosoknya yang rupawan.

Tanpa kehadiran burung itu, hidupnya berubah hampa dan sepi makna, hingga suatu saat datang Maut menjemputnya. " Mengapa kau datang kemari ?" tanya perempuan itu. "Kujelang dirimu agar kau dapat kembali terbang bersamanya ke langit," jawab Maut. "Kalau saja dulu kau biarkan dia bebas datang dan pergi, tentu akan semakin besar cinta dan kekagumanmu padanya. Dan aku tak perlu datang untuk membawamu kepadanya."




Sedikit tentang Eleven Minutes

Judul: Eleven Minutes
Pengarang: Paulo Coelho
Tebal: 357 halaman
Tahun Terbit: 2007 (Cetakan keempat: 2011)
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama


“Hidup adalah permainan yang berdesing cepat memabukkan; hidup adalah perjuangan terjun dengan parasut; berani mengambil risiko, jatuh dan bangkit kembali; berani mendaki hingga ke puncak; punya keinginan untuk memaksimalkan diri, bisa merasa marah dan tidak puas saat kau gagal melakukannya”


Buku ini bercerita tenang seorang gadis yang bernama Maria. Seorang pria yang ditemuinya secara kebetulan berjanji akan mejadikannya seorang aktris terkenal. Ternyata, janji itu hanya kosong belaka. Pada akhirnya dia harus menjadi pelacur untuk bertahan hidup. Tapi Maria bukan seorang perempuan yang optimis. Semakin lama, karirnya sebagai pelacur semakin menanjak. Dia menjadi salah satu pelacur terpopuler. 

Berbagai macam model laki-laki sudah dia temui. Dengan pengalamannya inilah menjadikan dia semakin cerdas dan dewasa meskipun harus menjauhkannya dari cinta sejati. Namun ketika seorang pelukis muda mulai masuk dalam hidupnya, prinsip dalam hidupnya pun diuji. Dia harus memilih antara cintanya ataukah tetap diam dalam kehidupan gelapnya. Seks yang awalnya hanya sebagai penyatuan fisik akhirnya menjadi sakral dengan menyatunya dua jiwa. 

Akhir cerita ini sebenarnya membuat saya sangat kecewa. Hampir tidak ada bedanya dengan drama-drama hollywood. Saya lebih tertarik membaca petualangan Maria mulai dari merantau di Swiss sebagai pelacur lepas, hingga menjadi primadona di dunianya. Dari seorang gadis polos yang tak mampu mengungkapkan rasa suka terhadap teman masa kecilnya, hingga menjadi seorang perempuan yang tak hanya cantik namun juga cerdas.

Buku ini sangat berani menggambarkan dunia prostitusi yang menurut kita sangat tabu ataupun terlarang. Dengan rapi, penulis mengiring kita untuk melihat sisi lainnya yang tak tampak dari luar. Inilah yang membuat saya menjadikan buku ini sebagai salah satu terfavorit saya. Meski dengan akhir cerita yang mengecewakan, perjalanan hidup perempuan Maria ini sangat cocok untuk dijadikan dongeng sebelum tidur. Selamat membaca !

Kamis, 02 Agustus 2012

SENDIRI

dulu aku bagianmu kawan
namun kini tidak lagi
entah kau atau aku yang menjauh

kau ada disampingku
namun terasa tak ada
aku hanya tunduk, diam dan membisu

kucoba menggapaimu
mencoba menimbun jurang yang ada
tapi kau menggalinya kembali

dan jurang itu semakin lebar
kau semakin jauh bersamanya
dan hanya aku sendiri disni

imajinasiku menyeretku
ingin ku kejar
ingin ku gapai
namun,, tubuh ini terus terpaku

kucoba menikmati kesendirian ini
membunuh segala imajinasiku
dan akhirnya, aku tetap sendiri..